Tak Berkategori

ASAL USUL DESA JATIKERTO

Pada zaman penjajahan Belanda sampai dengan Jepang Desa Jatikerto merupakan hutan lebat yang ditumbuhi beraneka ragam tanaman dengan dominasi pohon jati yang usianya ratusan tahun.  Waktu itu hutan yang sekarang menjadi Desa Jatikerto belum dihuni oleh orang. Akhirnya dalam pengembaraan yang panjang seorang berasal dari Solo (Surakarta) bernama Ki Wonodjojo melancong sampai dikawasan timur pulau Jawa tepatnya di desa Slorok dengan alasan menghindari peperangan yang dahsyat di daerahnya.

Setelah bermukim dikawasan Slorok Ki Wonodjojo menikah dengan gadis desa asal Slorok, kemudian dia bersama-sama temannya berusaha meningkatkan kesejahteraan hidupnya melalui pembukaan hutan sebagai bahan untuk pertanian. Ki Wonodjojo dan kawan-kawannya kerasan tinggal dikawasan yang baru dibuka tersebut karena tanahnya landai dan subur. Gayung bersambut akhirnya berita dari mulut ke mulut sampailah ke tetangga yang berada di kawasan Slorok dan sekitarnya, mendengar kawasan baru tanahnya landai dan subur maka berduyun-duyun orang datang membuka hutan di pergunakan untuk tempat tinggal dan kawasan pertanian.

jatikerto-e1520083419261.jpeg
sejarah jatikerto versi dekaka

Dengan semakin bertambahnya jumlah pemukim dikawasan yang baru tersebut timbullah keinginan warga masyarakat untuk mempunyai pemimpin yang dapat diteladani dalam mengatur kehidupan bermasyarakat. Pada akhirnya dengan semangat “Holobis Kuntul Baris” setelah bermusyawarah tercapailah kesepakatan secara aklamasi untuk mengangkat Tetuwo Desa ( Sesepuh Desa ) yaitu Ki Wonodjojo. Dengan kearifan dan keteladanannya akhirnya kawasan ini semakin dikenal orang dan semakin bertambah minat warga di luar kawasan tersebut untuk menetap dan menjadi bagian warga Ki Wonodjojo.

Setelah selang beberapa tahun setelah penebangan hutan dan penduduknya relative banyak maka kawasan ini diberi nama Bedali, kemudian setelah jumlah penduduk semakin bertambah suatu waktu diadakan musyawarah diantara mereka yang selanjutnya melahirkan kesepakatan untuk mengganti nama Bedali menjadi Jatikerto, Jati diambil dari sebutan kayu Jati sedangkan Kerto berati penghargaan, jadi Jatikerto berarti penghargaan terhadap kayu jati. Dengan kata lain desa ini berasal dari Kayu Jati yang mempunyai penghargaan yang tinggi. Ini sekaligus  memberi arti pengharapan bahwa desa ini kelak diharapkan menjadi desa yang dihargai atau dihormati oleh orang-orang atau desa-desa lainnya.

Ki Wonodjoyo menjadi sesepuh selama kurang lebih 10 tahun lamanya, setelah itu  Ki Wonodjoyo melancong lagi dan datanglah Mbah Ajeng Anti ke Jatikerto.Mbah Ajeng Anti ini berasal dari Kesamben, dan suaminya berasal dari gunung Kawi, dan Jatikerto menjadi tempat persinggahan Mbah Ajeng Anti.Mbah Ajeng Anti adalah orang yang baik dan mempunyai kelebihan, maka sama orang-orang Jatikerto Mbah Ajeng Anti dijadikan sesepuh desa saat itu. Akhirnya Mbah Ajeng Anti meninggal dan dimakamkan Jatikerto.

Sebagai penghormatan dan penghargaan kepada para leluhur, setiap bulan Suro warga desa Jatikerto memperingati bersih desa dengan mengadakan acara ruwatan di makam Mbah Ajeng Anti yang merupakan salah satu sesepuh atau leluhur yang dipercaya warga desa Jatikerto sebagai pepunden.

Jatikerto ini mendapat pengakuan yang sah dari pengageng Ki Raden di Kadipaten Pasuruan dengan sebutan Desa Jatikerto, yang kemudian nama desa ini dipakai sampai sekarang. Sedangkan tahun berdirinya kurang lebih semasa kepemimpinan Ki Wonodjojo yaitu tahun 1558. Sejarah singkat Desa Jatikerto didasrkan pada catatan atau dokumentasi yang ada di Kantor Desa dilengkapi informasi yang diperoleh dari para sesepuh desa antara lain : dari mantan Kamituwo, Bapak Rawi mantan Carik Suyatno (almarhum), dan sesepuh desa Mbok Rah, Bapak Darman dan Pak Pur. Sejarah singkat desa ini digali oleh Bp. Sutrisno Mantan Kepala Desa dan di himpun oleh Kepala Dusun Jatikerto Djamil. Rifa’i.

Mengingat sejarah terbentuknya sebuah desa tidak dapat dilepaskan begitu saja dengan budaya (kultur) masyarakat setempat semenjak kepemimpinan tetuwo sampai dengan kepala desa yang sekarang seluruh sesepuh dan warga desa Jatikerto masih mengakui bahwa ada sejumlah Gending-gending jawa yang dipercayai sebagai Gending Dayangan.  Gending Dayangan yang dianggap mempunyai daya magis yaitu :

  1. Sekar Gending
  2. Pacul Gowang
  3. Randu Kintir
  4. Celeng Mogok
  5. Puji Rahayu
  6. Undur-undur
  7. Eling-eling

KetTujuh  gending tersebut diyakini mempunyai nilai sakral karena tidak dapatdiperdagangkan pada waktu sembarangan. Gending-gending ini hanya untuk diperdengarkan pada acara tahunan yang disebut Bersih Desa, yaitu selamatan desa yang diselenggarakan pada waktu malam hari dengan rangkaian sesaji lengkap menurut adat jawa, yang dilakukan pada bulan suro (Muharram). Gending-gending tersebut digunakan untuk menghantarkan acara tayuban yang mengiringi sejumlah waranggono (pelantun tembang jawa putri) kemudian diikuti oleh semua perangkat desa (pamong desa). Pagelaran tayub tersebut biasanya dilaksanakan di tengah sawah atau dibalai desa, tempat-tempat lain yang sudah disepakati oleh tokoh-tokoh masyarakat. Akan tetapi juga tidak menutup kemungkinan acara tayub tersebut digelar di rumah-rumah tokoh masyarakat atau digelar pada suatu acara penting yang dilakukan oleh tokoh masyarakat, kemudian acara bersih desa menumpang (nunut) pada acara tersebut.

Menurut keterangan,  yang ada sesepuh warga yang menuturkan sebagai berikut :

“ Ingkang kawastanan gending-gending dayangan puniko naming prayogi dipunmidangeten wonten ing sasono budhoyo bersih desa kemawon, salintunipun mboten kepareng amargi dipun yakini bilih gending-gendingkolowau wontenisinipun ingkang wigati ugi wingit “ . Artinya : “ Yang disebut gending-gending yang mengandung nilai sakral itu hanya untuk acara selamatan desa, diluar acara bersih desa gending-gending tersebut tidak boleh diperdengarkan karena dianggap sakral atau gaib”.

Hasil observasi menunjukkan bahwa gending-gending tersebut memang tidak pernah diperdengarkan  di luar acara selamatan desa (bersih desa). Penduduk desa pada umumnya menganggap bahwa gending-gending dayangan tersebut malati  (membuat orang atau warga desaterkutuk) kalau diperdengarkan di sembarang waktu.

Adapun orang orang yang memimpin  dan merasa kepemimpinannya di desa Jatikerto semenjak terbentuknya desa ini sampai dengan sekarang dapat dilihat pada table di bawah ini. Perlu diketahui bahwa masa kepemimpinan tetuwo desa (sesepuh/tokoh warga desa) sampai dengan kepala desa sebelum berlakunya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1979; tidak ada batasan waktu bagi seorang yang menjabat, sehingga kita mengetahui periodisasi tenggang waktunya memimpin desa Jatikerto bervariasi.

Nama Tetuwo/Kepala Desa dan masa jabatannya :

 

NO.

 

NAMA TETUWO / KEPALA DESA MASA  JABATAN   TAHUN
1. Ki Wonodjojo 1558 – 1568 10  Tahun
2. Ki Dasinah Wonodjojo 1568 – 1602 34  Tahun
3. Ki Saridah Latif 1602 – 1677 75 Tahun
4. Ki Singodermo 1677 – 1717 40  Tahun
5. Ki Djokerto 1717 – 1780 63  Tahun
6. Ki Saladin (H.M Sidiq) 1780 – 1861 81  Tahun
7. Paikan 1861 – 1904 43  Tahun
8. Nur 1904 – 1916 12  Tahun
9. Minhat 1916  – 1935 19  Tahun
10. H. Mochamad Ismail 1935 – 1974 39  Tahun
11. Sai’in KAW 1974 – 1989 15  Tahun
12. H. M. Sutrisno S.Sos 1990 – 2006 16  Tahun
13. H. Mohamad Satu         2007 – Sekarang

Maka dengan perubahan tatanan penyelenggaraan pemerintah desa menurut Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004; sudah barang tentu di dalam Penyelenggaraan Pemerintah Desa diharapkan lebih mengacu pada sunber daya manusia, pembangunan perekonomian, penegakan hokum yang diutamakan.

Demikian sekilas Riwayat singkat berdirinya desa Jatikerto dengan harapan tahun demi tahun  ada peningkatan yang didukung oleh semua pihak.

“PUJI RAHAYU

Amemuji rahayu rahayu jiwa raga

Para budaya seni

Anindakake angleluri

Kawruh ingkang nyata

Kebudayaan agung

Warga kita sedaya kalilakna

Ambabar ngrembaka

Manggio rahayu. “

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s